<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bundainbiz.com &#187; Waralaba</title>
	<atom:link href="http://www.bundainbiz.com/category/waralaba/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bundainbiz.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Aug 2011 07:04:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Modal Usaha Bukan Cuma Uang</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/modal-usaha-bukan-cuma-uang.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/modal-usaha-bukan-cuma-uang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 07:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zilah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Kalau berbicara mengenai modal usaha, pasti langsung terbayang  uang yang banyak. Karena, uang bisa digunakan untuk menyewa atau membeli lahan, membeli peralatan dan mesin. Sebagian lagi digunakan untuk modal kerja membeli bahan baku dan biaya operasional serta biaya pemasaran. Padahal sebenarnya wirusaha tidak sesederhana itu, Uang memang diperlukan dalam menjalankan roda usaha, tapi ada modal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau berbicara mengenai modal usaha, pasti langsung terbayang  uang yang banyak.<br />
Karena, uang bisa digunakan untuk menyewa atau membeli lahan, membeli peralatan dan mesin.<br />
Sebagian lagi digunakan untuk modal kerja membeli bahan baku dan biaya operasional serta biaya pemasaran.<br />
Padahal sebenarnya wirusaha tidak sesederhana itu,</p>
<p>Uang memang diperlukan dalam menjalankan roda usaha, tapi ada modal lain yang lebih penting dan lebih menentukan keberhasilan sebuah usaha&#8230;</p>
<p>Sebenarnya ada 3 modal  yang akan menentukan keberhasilan suatu usaha, yaitu kepribadian, kreativitas dan profesionalisme.</p>
<ol>
<li>modal kepribadian : modal ini meliputi kemampuan untuk melihat kelebihan dan kelemahan diri sendiri, mampu mengendalikan emosi, serta memiliki motivasi yang tinggi dalam mengerjakan pekerjaan. Mari belajar dari kasus jatuhnya sebuah wirausaha setelah diwariskan kepada generasi berikutnya, kenapa hal ini bisa terjadi? karena hanya bisnisnya saja yang diwariskan tetapi modal kepribadiannya tidak. Tanpa mewariskan modal kepribadian, dan ketrampilan sosial, generasi penerus tidak mendapat ketrampilan mengendalikan emosi, ketrampilan berhubungan dengan orang lain.</li>
</ol>
<ol>
<li>Modal kreativitas : modal ini merupakan kemampuan untuk membuat faktor pembeda dan unik. kita tidak perlu lagi meniru cara-cara yang membuat seorang wirausahawan berhasil. karena, lingkungan selalu berubah. siklus produksi dan siklus usaha juga akan mengalami perkembangan. Dengan modal kreativitas, sesuatu yang biasa saja menjadi memiliki nilai lebih, sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah. misalnya, dalam menyiapkan tempat usaha, daripada membeli atau menyewa, kita bisa menawarkan bagi hasil dengan pemilik tempat. atau bahan setengah jadi dengan modal kreativitas disulap menjadi bahan jadi dengan harga dan nilai yang lebih.</li>
</ol>
<ol>
<li>Modal Profesional : profesional dalam menghasilkan produk maupun dalam hal pelayanan. wirausahawan yang profesional akan mengerjakan yang terbaik dan berstandart tinggi serta selalu menepati janjinya. Modal ini sangat menentukan terjadinya perulangan pembelian. jika customer puas pada transaksi pertama, customer akan membeli lagi. Dan akan terus berulang sehingga menjadi customer yg loyal. customer yang loyal akan menjadi pembela kita.</li>
</ol>
<p>Kalau sudah memiliki modal kepribadian, kreativitas dan profesionalisme kita akan memiliki keunggulan dan ke khas an. Customer akan senang  menjalin hubungan kerjasama dengan kita.</p>
<p>Tidak semua modal usaha harus kita miliki secara pribadi, modal dan ilmu yang dibutuhkan bisa dimiliki banyak orang yang kita dayagunakan secara sinergy. Yang penting kita mengetahui siapa yang memilikinya, kemudian kita melakukan pendekatan dan bekerjasama dengannya, serta membangun sebuah jaringan yang sinergy.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Zilah Kris</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/modal-usaha-bukan-cuma-uang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Waralaba : Teliti Sebelum Membeli</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/usaha-waralaba-teliti-dulu-sebelum-membeli.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/usaha-waralaba-teliti-dulu-sebelum-membeli.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 02:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BigOpportunityForYou</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waralaba]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis waralaba]]></category>
		<category><![CDATA[franchise]]></category>
		<category><![CDATA[tips memilih franchise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis waralaba sedang menjadi pilihan yang paling banyak diminati oleh para pelaku usaha atau mereka yang baru mau memulai usaha. Produk yang ditawarkan pun beragam mulai dari produk luar sampai produk lokal. Lalu bagaimana memilih waralaba yang tepat dan menguntungkan ? Anda mungkin pernah melihat sebuah produk makanan ringan dari ketela yang menjamur di sudut-sudut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bisnis waralaba sedang menjadi pilihan yang paling banyak diminati oleh para pelaku usaha atau mereka yang baru mau memulai usaha. Produk yang ditawarkan pun beragam mulai dari produk luar sampai produk lokal. Lalu bagaimana memilih waralaba yang tepat dan menguntungkan ?</p>
<p>Anda mungkin pernah melihat sebuah produk makanan ringan dari ketela yang menjamur di sudut-sudut pusat perbelanjaan.  Pembeli pun bahkan rela untuk antri membeli makanan ini, tapi baru beberapa bulan berjalan, mendadak pembeli pun sepi. Gerobak yang dijadikan media berjualan hilang satu per satu.</p>
<p>Bisnis waralaba saat ini memang sedang tumbuh subur. Menurut catatan majalah info franchise pertengahan tahun 2010, pertumbuhan omzet waralaba meningkat 20 persen di tahun 2009.</p>
<p>Sementara widia Dharmadi, konsultan franchise Indonesia, saat ini ada 1500 usaha franchise di Indonesia. Namun, dari sekian banyak itu, kebanyakan masih berupa <em>Business Opportunity</em> yang belum teruji. &#8220;Makanya harus hati-hati saat membeli franchise&#8221;, kata widia.</p>
<p>Cek dan Ricek</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika ingin membeli usaha franchise.  Pertama profitnya harus jelas, sistemnya bagus, detail dan ada Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW). &#8221; Itu baru syarat di atas kertas. Dan harus di cek dulu. Jangan langsung percaya saja pada franchisor (pihak penjual franchise).</p>
<p>Banyak hal yang harus di cross-check di lapangan, antara lain menanyakan sejarah franchise kepada penjual. Biasanya, bisnis yang sudah teruji punya perjalanan usaha minimal 5 tahun.</p>
<p>Widia juga menyarankan jangan memilih yang sebenarnya baru merupakan business opportunity. Contoh tren bisnis donat, ada yang bertahan tapi banyak juga yang tumbang. Nah yang tumbang ini mungkin hanya merupakan business opportunity. Baru  1-2 tahun berdiri, bahkan baru 3 bulan sudah jual waralaba.</p>
<p>Yang tak kalah penting adalah mengecek tim support dari franchise yang akan dibeli. Mulai dari pelatihan, bahan baku dan sebagainya. Ini sangat penting karena menyangkut kelangsungan hidup usaha yang akan dibeli.</p>
<p>Soal profit juga harus di cek ulang. &#8220;Harus dilihat langsung dan ditongkrongin seharian di lokasi franchise yang akan dibeli&#8221;. Dihitung berapa omzetnya, berapa jumlah pengunjungnya, berapa lama penyajian, harus benar-benar dilakukan riset dan survey sendiri. Pokoknya harus diketahui semua detilnya sebelum membeli.</p>
<p>Pemilihan lokasi juga tak kalah penting. Apakah lokasi yang akan dibidik tersebut di pusat pertokoan, perkantoran, sekolah atau kompleks perumahan. Pemilihan lokasi harus di diperhitungkan dengan baik.  Harus diperhitungkan jam bukanya. Bila di perkantoran atau sekolah sudah pasti hari sabtu dan minggu tutup, sehingga penghitungan omzet juga harus diperhatikan.</p>
<p>Yang kerap dilupakan pebisnis sistem ini adalah soal passion. Kalau passionnya di kuliner, ya jangan membeli franchise musik atau pendidikan. Jadi pilih bisnis yang sesuai dengan passion kita. Biasanya sih akan lebih berhasil dan mudah mencari jalan keluarnya bila ada kesulitan.</p>
<p>Ikut Terjun</p>
<p>Memilih bisnis franchise dapat dikatakan seperti memotong langkah proses memulai usaha. Itu sebenarnya prinsip utama franchise.  Hanya saja, pemilik harus benar-benar jadi owner operartion yang harus tahu operasional usahanya. Jangan hanya modal duit lalu pengelolaan diserahkan ke orang lain. Minimal dia harus mengerti cara kerjanya bagaimana. Jadi, kebocoran akan bisa dicegah.</p>
<p>Sistem juga harus dipahami. Misalnya, bagaimana pengiriman bahan baku, ukuran, mengolah sampai penyajiannya. Jadi kalau ada masalah, bisa segera di atasi.</p>
<p>Sebagai contoh, bisnis franchise lele. Pemilik harus mengecek pengiriman ukuran lele sesuai standar. Jangan sampai ukuran lelenya kebesaran atau malah kekecilan. Karena pembeli bisa membandingkannya dengan outlet lain. Dan jangan sampai kita menerima lele yang sudah mati, karena akan mengurangi kualitas</p>
<p>Tahun kelima</p>
<p>Meski saat ini banyak tawaran franchise dari dalam maupun luar negeri, namun widia menyarankan untuk menjadi wirausaha sendiri. Daripada mengambil franchise yang belum diketahui sudah teruji atau belum. Widia menyarankan untuk memulai bisnis ini dengan usaha sendiri sesuai passion. Tidak usah langsung besar, dari kecil saja dulu, tapi harus sabar. Nikmati usaha itu dari tahun pertamu sampai tahun ke lima, dan hadapi proses jatuh bangun itu dengan sabar, karena proses itu justru akan membuat kita lebih kuat dan memberikan pengalaman yang hebat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/usaha-waralaba-teliti-dulu-sebelum-membeli.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tinggal Cari Dagangannya</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/tinggal-cari-dagangannya.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/tinggal-cari-dagangannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Sep 2006 15:58:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum / Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Indomaret menawarkan peluang usaha bagi para pengusaha mikro dan kecil. Yang ingin berjualan di gerai-gerainya. Indomaret akan menyediakan gerobak dan lokasi usaha dengan sewa terjangkau, sekaligus memberi pelatihan dan pembinaan usaha. Menjadi orang kecil itu repot melulu itulah keluhan yang kerap terlontar dari bibir para pengusaha kecil atau yang biasa dikenal sebagai usaha mikro. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.bundainbiz.com/wp-content/uploads/2006/09/indomaret.jpg" alt="indomaret" title="indomaret" width="175" height="85" class="alignleft size-full wp-image-642" />Indomaret menawarkan peluang usaha bagi para pengusaha mikro dan kecil. Yang ingin berjualan di gerai-gerainya. Indomaret akan menyediakan gerobak dan lokasi usaha dengan sewa terjangkau,<br />
sekaligus memberi pelatihan dan pembinaan usaha.</p>
<p>Menjadi orang kecil itu repot melulu itulah keluhan yang kerap terlontar dari bibir para pengusaha kecil atau yang biasa dikenal sebagai usaha mikro.</p>
<p>Mereka tentu berniat membuka usaha untuk mengangkat taraf ekonominya. Namun langkah mereka sering terhambat oleh modal yang terbatas. Akibatnya, kalaupun bisa membuka usaha skalanya tetap kerdil lantaran mereka tak punya cukup duit mengembangkan usaha tersebut. </p>
<p>Di luar kendala modal, perkara lain yang sering jadi penghambat<br />
adalah: dimana mereka bisa membuka usahanya?<br />
Mau sewa tempat, mahalnya bukan main.<br />
Mereka pun terpaksa memilih lokasi usaha atau<br />
berdagang di emperan atau kaki lima.<br />
Namun, ini juga ada biayanya.<br />
Sebut saja jatah preman atau uang keamanan.<br />
Sudah begitu, mereka juga harus siap diuber-uber<br />
petugas ketentraman dan ketertiban (tramtib). </p>
<p>Boleh jual apa saja, asal legal </p>
<p>Nah, buat para pengusaha mikro dan kecil, jaringan minimarket Indomaret masih membuka tawaran program kemitraan.<br />
Nama program ini: Mitra UMKM Indomaret.<br />
&#8221;Kami ingin membina pengusaha kecil jadi mitra usaha yang bisa mandiri dan berkembang,&#8221; kata Laurensius Tirta Widjaja,<br />
Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama. </p>
<p>Walaupun program yang sudah berjalan setahun ini berlabel<br />
UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), namun PT Indomarco Prismatama sebagai pemegang merek Indomaret lebih menargetkan pada pengusaha sektor mikro dan kecil. Lewat program ini , Indomaret membantu menyediakan lahan bagi para pengusaha mikro dan kecil untuk menjalankan produknya. Mereka akan memberi tempat di teras depan gerai Indomaret. </p>
<p>Indomaret tidak sebatas menyediakan tempat buat berjualan,<br />
namun juga menyediakan gerobak buat para pengusaha mikro<br />
dan kecil itu untuk menjalankan dagangannya.<br />
Tentu saja, gerobak dan tempat berdagang yang disediakan Indomaret tersebut tidak gratis.<br />
Para pengusaha yang menjadi mitra harus membayar biaya sewa gerobak dan sewa tempat.<br />
&#8221;Tapi, biayanya saya jamin tidak memberatkan,&#8221; ujar Laurens, panggilan akrab Laurensius. </p>
<p>Pernyataan tersebut diamini Gunawan, salah seorang pengusaha kecil yang sudah bergabung dengan program ini semenjak diluncurkan setahun yang lalu.<br />
&#8221;Modalnya bisa lebih kecil dibandingkan kalau menyiapkan sendiri,&#8221;papar Gunawan. </p>
<p>Menurut pria asal Surabaya ini, dengan memperhitungkan gerobak yang sudah disediakan Indomaret, modal awal yang harus disiapkan untuk berusaha bisa ditekan sampai separonya. &#8221;Sekarang membikin gerobak sendiri itu modalnya hampir Rp 2 juta, lo. Uang satu juta sudah enggak dapat,&#8221; ungkap Gunawan. </p>
<p>Karena gerobak sudah disiapkan Indomaret, para pengusaha mitra tinggal menyiapkan isi gerobak, alias barang dagangan.<br />
Pada dasarnya Indomaret mengizinkan para pedagang menjual apa saja.<br />
 &#8221;Asalkan barang yang diperdagangkan tidak dijual di Indomaret,<br />
dan barangnya tidak ilegal,&#8221; kata Laurens. </p>
<p>Indomaret nantinya menyediakan gerobak yang disesuaikan dengan barang dagangan si pengusaha.<br />
Ada tiga tipe gerobak yang ditawarkan Indomaret.</p>
<p>Pertama gerobak tipe standar, yang penggunaannya cocok untuk berjualan es, pizza, jus, kue basah atau kue tradisional, jajan pasar, bahkan untuk berjualan nasi rames atau nasi padang.<br />
Untuk gerobak tipe ini pedagang harus membayar sewa<br />
sebesar Rp 50.000 per bulan. </p>
<p>Pilihan kedua adalah gerobak tipe etalase.<br />
Gerobak tipe etalase ini memiliki ruang pajang produk dari kaca<br />
dengan ukuran yang cukup luas.<br />
Karena itu, gerobak ini cocok untuk berjualan aksesori ponsel, baju, kosmetik, aksesori pakaian, juga majalah.<br />
Harga sewanya sebesar Rp 61.150 per bulan. </p>
<p>Kalau tidak laku bisa pindah tempat.</p>
<p>Pilihan ketiga adalah gerobak tipe food.<br />
Ini cocok untuk berjualan produk-produk makanan yang<br />
penyajiannya membutuhkan perangkat memasak.<br />
Misalnya, bakso, siomay, burger, mi ayam, martabak,<br />
dan sebagainya. Gerobak tipe food ini dilengkapi dengan wadah untuk meletakan kompor, plus satu meja lipat ukuran 150 cm x 20 cm.<br />
Biaya sewanya sebesar Rp 62.700 per bulan. </p>
<p>Semua biaya tadi hanya untuk biaya sewa gerobak.<br />
Selain itu, mitra UMKM Indomaret juga harus membayar sewa teras,<br />
yang besarannya antara Rp 150.000 hingga Rp 250.000 per gerai per bulan, tergantung lokasi dan ramai tidaknya gerai Indomaret tersebut. </p>
<p>Berkaitan dengan urusan sewa menyewa ini Indomaret mensyaratkan kerja sama minimal tiga bulan dengan pengusaha yang tertarik menjadi mitranya. Oleh karena itu, mitra UMKM Indomaret harus membayar sewa minimal untuk tiga bulan pertama. Sebagai insentif, Indomaret memberikan fasilitas gratis sewa selama satu bulan.<br />
&#8221;Itu kami berikan sebagai masa free trial buat dia,&#8221;ujar Laurens. </p>
<p>Mitra bisa memilih lokasi di salah satu toko Indomaret untuk membuka gerainya. Namun, biasanya pihak Indomaret menyarankan untuk membuka gerai di Indomaret yang berdekatan dengan tempat tinggal si mitra. </p>
<p>Kalau setelah usaha berjalan ternyata terbukti barang dagangannya di wilayah tersebut tidak laris, mitra bisa meminta pihak Indomaret untuk melakukan relokasi bagi usahanya. &#8221;Kami akan mencarikan dia tempat di Indomaret lain, yang pasarnya cocok dengan usaha yang digelutinya,&#8221; tambah Laurens. </p>
<p>Memang program ini sudah berjalan setahun. Namun, peluang untuk bergabung menjadi mitra UMKM Indomaret sendiri masih terbuka luas. Pasalnya Indomaret mengharapkan satu toko Indomaret bisa ditempati oleh dua sampai tiga mitra. Saat ini penyewa teras di Indomaret, termasuk mitra UMKM, baru 2.242 penyewa; sementara per akhir Juni 2006 Indomaret sudah membuka 1.564 toko yang bisa menampung 3.128-4.692 mitra UKM. Artinya masih ada peluang untuk sekitar 886-2.450 penyewa teras. </p>
<p>Jumlah ini akan masih terus bertambahnya jumlah gerai Indomaret.<br />
&#8221;Sampai akhir tahun 2006 kami menargetkan paling tidak toko Indomaret akan mencapai 2.000,&#8221; tambah Laurens. Masih banyak kesempatan, kan? </p>
<p>Jadi Mitra sekaligus Binaan </p>
<p>Selain memberikan peluang untuk membuka usaha, Indomaret juga memberikan pembinaan bagi mitra UMKM-nya.<br />
&#8221;Indomaret akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada mereka,&#8221; ujar Laurensius Tirta Widjaja, Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama, pemegang merek Indomaret.<br />
Pelatihan itu meliputi bagaimana menjalankan bisnis, mengatur manajemen keuangan, serta bagaimana memasarkan dagangan. Indomaret juga memberikan saran kepada mitra mengenai produk apa yang cocok untuk dijual di wilayah tertentu. </p>
<p>Indomaret pun memfasilitasi pelatihan si mitra dengan pihak di luar Indomaret. Misalnya, mengikuti pelatihan dari Bogasari. Untuk mengikuti<br />
pelatihan-pelatihan ini, mitra sama sekali tidak dipungut biaya.<br />
&#8221;Kami tidak akan melepas mitra kami. kami akan terus berikan pendampingan,&#8221; papar Laurensius. </p>
<p>Karena Indomaret sudah mempersiapkan lahan dan sarana berjualan, mitra tinggal menyiapkan barang dagangannya saja. Dan, itu tentu menekan modal yang perlu dikeluarkan mitra, sehingga balik modalnya juga bisa lebih cepat. Seperti yang dialami Gunawan, mitra UMKM Indomaret yang berjualan jajanan pasar. &#8221; saya sudah balik modal dalam empat bulan,&#8221; tutur dia. </p>
<p>(KONTAN, 31 Juli 2006)</p>
<p>Oleh<br />
Annisa Wardani<br />
Moderator Milis BundanBiz<br />
<a href="http://www.CustomerLadder.com">www.CustomerLadder.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/tinggal-cari-dagangannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agen Rabbani</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/agen-rabbani.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/agen-rabbani.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Aug 2006 23:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Sharing yang satu ini adalah pengalaman dari seorang pebisnis rekan saya yang baruuu saja memulai usaha.. namun semangatnya… waaah sudah entrepreneur banget! Terima kasih Pak Hadi yang telah mengijinkan saya mengforward cerita ini Penuh semangat ini pada rekan-rekan di Newsletter BundaInBiz. &#8212; &#8212; Berburu Foto Artis &#8220;Astri Ivo&#8221; Astri Ivo adalah icon produk Rabbani yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_652" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img src="http://www.bundainbiz.com/wp-content/uploads/2006/08/rabbani.jpg" alt="rabbani" title="rabbani" width="150" height="142" class="size-full wp-image-652" /><p class="wp-caption-text">rabbani</p></div>Sharing yang satu ini adalah pengalaman dari seorang pebisnis rekan saya yang baruuu saja memulai usaha..<br />
namun semangatnya…<br />
waaah sudah entrepreneur  banget!</p>
<p>Terima kasih Pak Hadi yang telah mengijinkan saya mengforward cerita ini<br />
Penuh semangat ini pada  rekan-rekan di Newsletter BundaInBiz.</p>
<p>&#8212; &#8212;</p>
<p><strong>Berburu Foto Artis &#8220;Astri Ivo&#8221;</strong></p>
<p>Astri Ivo adalah icon produk Rabbani yang turut mengantarkan produk2 kerudung dan apa2 yang dibuat senantiasa meledak di pasaran.</p>
<p>Dari gambaran kasar saya saja, produk ini sudah menjadi leader nomor 1 di Indonesia atau bahkan didunia, untuk produk kerudung.</p>
<p>Pada acara SILADNAS (Silaturahmi Dealer Nasional) itu, perserta yang datang cukup banyak, menurut perhitunganku sekitar 50an orang yang umumnya datang berpasangan, kecuali yang masih single.<br />
Mereka datang dari berbagai propinsi dari Banda Aceh sampai Timika, dan umumnya sudah menyandang gelar dealer platinum.</p>
<p>Ada yang dealer menjadi dealer platinum setelah 6 tahun, 2 tahun, 1 tahun, 6 bulan,…<br />
dan alhamdulillah tempat kami termasuk yg cukup lumayan krn bisa<br />
platinum dalam waktu 2 bulan.!<br />
Jadi umumnya mereka sudah senior2 meskipun umurnya banyak yang lebih muda…<br />
Tampang2 mereka yang telihat oke, ganteng2, cantik, kalau yang ibu2 ya kalungnya bergelantungan banyak bener2 membuat kami yang yunior teorinya minder.</p>
<p>Acara pertemuan dilaksanakan di auditorium Hotel Jayakarta Bandung, yang cukup luas dan ruangan ditata artistik seperti seminar kaum elit, dengan meja2 bundar yang 1 meja dikelilingi 6 kursi. </p>
<p>Kami berempat karena jarang nginep di hotel jadi celingukan lihat sana-sini, makan ini-itu hingga masih keruangan terlambat sekitar 30 menit, dan kami datang sebagai peserta terakhir…<br />
Seperti yang saya khawatirkan semula, anggotaku, istri (ami), adik ipar (obi), dan umi (karyawan) langsung terlihat ciut, dan malu2, maju mundur hanya untuk masuk ke ruangan.<br />
Mereka lupa bahwa pimpinan rombongan mereka adalah orang yang urat minder dan malu-nya sudah hilang.<br />
Mereka yang tahu2 sudah duduk ditempat pojok belakang, terhalang tiang lagi, saya samperin dan saya tarik tangannya untuk pindah tempat, dan kupaksa untuk duduk di deretan paling depan.</p>
<p>Mereka mau menolak malu abisnya aku paksain he-he..daripada terlihat banyak orang.<br />
Saya berharap dengan kejadian ini urat malu mereka juga hilang, belakangan team saya menjadi member yg aktif nyamperin orang2 lain…tuh kan..?</p>
<p>Mereka saya ingatkan, masing2 orang harus mencatat minimal 10 nama orang, lengkap dengan HP dan pastikan dia mengenal kita.<br />
Belakangan mereka laporan, banyak wanita2 hebat diruangan ini, ada yang jadi agen minyak terbesar di luar jawa, ada yang punya sekolahan ESQ, ada ngajakin umroh bareng tahu depan, ada orang aceh yang dalam waktu 1 tahun sukses jadi jutawan padahal umurnya masih 25-30an dan pas bencana tsunami keluarga dan anak istri dia hilang namun sekarang sdh punya keluarga lagi dgn 1 anak yang manis. dll&#8230;<br />
pengalaman team-ku banyak mencatat dan berusaha mengenal orang2 sekitar menjadikan mereka terlihat puas dan optimis.</p>
<p>Itulah kemenangan pertama mereka mengalahkan rasa minder.<br />
Aku duduk di group laki2 dan tanpa sungkan2 aku duduk yang paling depan, bersama para laki2 muda yang terlihat cool-cool, yang secara feelingku nyata sekali bahwa mereka calon2 pebisnis muslimin yang hebat.<br />
Dugaanku benar, ternyata omset2 dagangan orang2 muda ini berkisar dari 50-500an juta perbulan, namun ada benang merah yang saya dapatkan, ketika saya tanya apa referensi bacaan dan siapa guru mereka? Beberapa orang membaca bukunya <strong>tdw</strong>..</p>
<p>Kembali ke acara.<br />
Karena posisinya terdepan sehingga dengan sangat leluasa saya memotret setiap momen yang ada didepanku.<br />
Salah satu targetnya adalah kita akan gandeng Astri Ivo agar dia menjadi ikon juga untuk meramaikan showroom kerudungku.<br />
Wajah2 Astri Ivo mampir lebih dari 50 kali kedalam kameraku, dan yang paling heboh adalah ketika acara bebas..<br />
Sebelum acara bebas, teamku aku suruh mendekati Ibu Nia Kurnia, Istri H.Amri, Direktur utama Rabbani.<br />
Ngobrol santai sana-sini dengan ibu pemilik Rabbani ini (mungkin) akan membuat kami naik pamornya sehingga Astri Ivo saya yakin akan dengan senang hati berfoto ria dengan team kami. Itu teoriku, dan nampaknya cukup jitu juga&#8230;</p>
<p>Saya lihat wanita2 muda yang hebat2 itu terlihat canggung juga untuk minta foto bareng, dan kebanyakan dari mereka hanya bawa kamera HP, tidak seperti kami yang bener2 mempersiapkan kamera dengan niat berburu object, agar bisa kami jadikan poster besar dan akan kami pajang di showroom kami, juga tidak lupa resolusi aku setting gede agar bisa di print sampai ukutan 1&#215;1 meter..!</p>
<p>Melihat team kami berulang kali menggandeng Astri dan banyak berfoto dengan berbagai pose, maka ibu2 lainnya pad ikut heboh dan berebut minta foto, sampai akhirnya panitia kewalahan dan mengatur foto2nya dilakukan kolektif (nah lo..), dan tidak boleh berebut, namun karena sang artis terlihat tergesa untuk acara yang lain maka sessi foto2nya hanya sebentar, banyak yang kecewa, namun itu bukan kami&#8230;kami telah mendapatkan banyak pose yang bagus, nanti tinggal kita edit dengan photoshop agar dapat gambar yang eksotis.<br />
Anda pengin liat beberapa foto2nya..?<br />
mampirlah ke blog-ku <a href="http://www.hadikuntoro.blogspot.com">www.hadikuntoro.blogspot.com</a></p>
<p>Target pertama dari 4 target sudah didapat..alhamdulillah, nanti menyusul akan saya posting perjuangan kami untuk mendapatkan target yang ke-2 yakni :<br />
”Kita rekam suara Astri Ivo agar mempromosikan bisnis kita&#8221;.<br />
Hebat kan..?<br />
Bagaimana caranya?<br />
Tunggu sambungannya <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam Fuuntastic<br />
Hadi Kuntoro<br />
<a href="http://www.hadikuntoro.blogspot.com">www.hadikuntoro.blogspot.com<br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/agen-rabbani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis Waralaba</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/bisnis-waralaba.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/bisnis-waralaba.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Aug 2006 15:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Tujuh Jurus Sukses: The Untold Story Rabu, 16 Agustus 2006 09:05 WIB &#8211; warta ekonomi.com Persaingan kian sengit. Wajah bisnis kian tak ramah. Maka, kendati Anda membeli suatu waralaba, yang mengklaim sistemnya siap pakai, kalau mau sukses, jangan terlena dan cuma duduk ongkang-ongkang. Ikuti pengalaman terwaralaba yang sukses. Lina, seorang pelanggan salon waralaba, tampak kesal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tujuh Jurus Sukses: The Untold Story</strong><br />
Rabu, 16 Agustus 2006 09:05 WIB &#8211; <a href="http://warta ekonomi.com">warta ekonomi.com</a></p>
<p>Persaingan kian sengit. Wajah bisnis kian tak ramah. Maka, kendati Anda membeli suatu waralaba,  yang mengklaim sistemnya siap pakai, kalau mau sukses, jangan terlena dan cuma duduk ongkang-ongkang. Ikuti pengalaman terwaralaba yang sukses.</p>
<p>Lina, seorang pelanggan salon waralaba, tampak kesal. Kunjungan pertama ke salon yang menurut brosurnya mengutamakan layanan berkualitas profesional ini sungguh mengecewakan. Sebab, tak hanya proses pemijatan di kepala yang terasa terlalu keras dan cepat selesai, malah bajunya pun basah kena air saat rambutnya dicuci. Dalam hati ia mengumpati pegawai yang tidak profesional, seperti pria yang tadi melayaninya itu.</p>
<p>Lina tak sendirian. Pakar waralaba Amir Karamoy pun mengaku menerima banyak keluhan dari para pembeli waralaba (terwaralaba) salon soal kualitas SDM-nya. Padahal, mereka telah mengikuti pelatihan dari pewaralaba. “Merekrut SDM untuk salon memang tak mudah,” ungkap Amir. Itu sebabnya, lanjut dia, para calon terwaralaba mesti menyiapkan diri menghadapi hal-hal yang tak terduga.</p>
<p>Selain itu, untuk sukses berbisnis waralaba, terwaralaba sebaiknya jangan hanya ikut aturan yang dibuat pewaralaba. Persaingan kian sengit. Rumus standar tak lagi memadai jika terwaralaba ingin sukses. Mereka harus mau melakukan upaya ekstra. Apa saja? Sejumlah terwaralaba —Riza Rosalina, Jemmy, Baron Respati, Wingky W. Kushadi, Asep Gosiman, dan Lukman Hakim— ternyata mau berbagi kiat suksesnya.</p>
<p><strong>#1 Jangan Takut Keluar dari Aturan Baku</strong></p>
<p>Sistem yang baku. Itulah yang biasa ditawarkan para pewaralaba kepada para pembelinya. Namun, ada baiknya terwaralaba mencoba untuk berkreasi. Inilah yang dilakukan Riza Rosalina, yang membeli waralaba Sanggar Kreativitas Bobo (SKB) dari Grup Gramedia, tahun 2000 lalu. Dalam paket itu, SKB menyajikan metode pengajaran yang terlalu konvensional. Merasa kurang sreg, dokter gigi ini pun melakukan modifikasi. Ia menerapkan metode active learning. Kebetulan, seorang kawannya sukses menerapkan metode ini di lembaga pendidikan yang dikelolanya. Agar metodenya berjalan baik, Riza pun bersikeras memakai ruangan yang lebih luas, melebihi yang diatur dalam perjanjian waralaba.</p>
<p>Pengalaman pribadi Riza, 43, juga mendukung perlunya modifikasi.<br />
Anaknya kebetulan bersekolah di sebuah sekolah swasta di Cibubur<br />
yang menerapkan metode active learning. Sebelum menerapkan metode itu, Riza membuka banyak buku psikologi tentang anak. Ia juga rajin ikut seminar yang membahas soal kepribadian anak. “Saya tak ingin sekadar menjalankan bisnis. Saya harus tahu perkembangan setiap anak didik,” ujar ibu dua anak ini.</p>
<p>Riza boleh bersyukur. Kini, hampir semua dari 17 SKB-nya menerapkan metode active learning, termasuk yang ada di Jl. Pondok Betung Raya No. 48, Bintaro, Tangerang. Patut dicatat, Riza menjadi satu-satunya pembeli waralaba SKB angkatan pertama yang sukses. Dua lainnya keburu gulung tikar.</p>
<p><strong>#2 Siapkan Dana Ekstra untuk Promosi</strong></p>
<p>Promosi, entah berupa spanduk, umbul-umbul, baliho, brosur, buletin, atau iklan radio, biasanya sudah diatur dalam perjanjian. Begitu juga besarnya anggaran. Namun, Jemmy tak mau ikut aturan itu. Pembeli waralaba Bread Story ini bersikeras mengeluarkan dana ekstra untuk promosi. Alasannya, ini gerai pertama. Jadi, pasti butuh usaha ekstra untuk menarik perhatian pengunjung. Dan, untuk itu, Jemmy tak mau melulu mengandalkan promosi dari pewaralaba. Lalu, apa bentuk promosi yang digelar pria yang berdomisili di Surabaya ini? Ia membuat pertunjukan musik dan bahkan badut untuk pembukaan gerai pertamanya di Malang Town Square. Dampaknya cukup menggembirakan. Sebagai pembeli pertama waralaba Bread Story, ia berhasil mencapai break-even point (BEP) sesuai yang dijanjikan pewaralaba. Sukses itu membuatnya tancap gas. Ia langsung membuka gerai kedua di Plaza Marina, Surabaya, dan tahun ini berharap bisa membuka tiga gerai Bread Story lagi di Surabaya.</p>
<p>Dana ekstra untuk promosi juga dikeluarkan Wingky Waluyo Kushadi, membeli waralaba kursus pendidikan Primagama. Untuk menarik minat siswa ke lembaga kursusnya, ia memberikan kupon undian kepada mereka yang membayar tunai di muka. Kupon itu diundi pada akhir tahun. Hadiahnya: sepeda motor dan komputer. Dana promosi juga ia cadangkan untuk memberikan garansi uang kembali 80% jika murid Primagama tidak lulus ujian akhir nasional. Ada catatan di sini, sang murid ini punya angka kehadiran 80% di kelas.  “Kami mulai menerapkannya tahun 2004,” ungkap Wingky. Itu berarti setahun sesudah ia membeli waralaba Primagama.</p>
<p><strong>#3 Bagaimanapun, Anda Harus Melihat Lokasi Sendiri</strong></p>
<p>Pewaralaba biasanya yang menetapkan kriteria lokasi gerai waralaba. Pembeli tinggal duduk manis. Namun, pengalaman berbeda dialami Lukman Hakim, pembeli waralaba Indomaret. Saat ditawari suatu lokasi oleh Indomaret, ia tak langsung setuju. Lukman ikut mondar-mandir meninjau lokasi sampai hatinya merasa sreg. Hasilnya memuaskan. Gerai itu mencapai BEP hanya dalam waktu 24 bulan. Padahal, Indomaret saja mematok 43 bulan. Kini, Lukman sukses mengelola empat gerai Indomaret.</p>
<p>Survei lokasi sendiri juga dilakukan Baron Respati.<br />
Meski pemilik waralaba Kafe O La La telah memberikan panduan umum untuk memilih lokasi, toh Baron merasa perlu melakukan riset sendiri. Sebab, ia punya tiga kriteria dalam memilih lokasi, yaitu lalu lintas pengunjung, tingkat hunian di gedung, serta pengelola gedung. Berkat jitu dalam memilih lokasi, jadilah kini Baron memiliki lima gerai Kafe O La La. Ia sukses. Gerai-gerainya itu ada di Grha SCTV, Gedung Bank Permata, Gajah Mada Plaza, Wisma Mulia, dan Graha Paramita (Kuningan).</p>
<p>Ikut memilih lokasi sendiri juga dilakukan Jemmy. Syaratnya, gerai Bread Story-nya harus menjadi pionir alias belum ada pesaing. Kalau sudah ada, jangan harap ia mau buka gerai di sana.</p>
<p>Wingky Kushadi pun punya kriteria dalam memilih lokasi. Katanya, omzet terbaik jika lokasi gerai dekat dengan ATM bank. Mengapa? “Sebab, tak perlu biaya pemasaran,” kata pria 28 tahun ini sambil terbahak. Saat antrean panjang di ATM, para nasabah jadi akan melihat gerai Primagama di situ. “Jadi numpang beken,” gelaknya, lagi. Berkat pilihan lokasi yang tetap, kini, dari puluhan gerai Primagama milik Wingky, separonya telah BEP.</p>
<p><strong>#4 Anda Juga Butuh Dana Ekstra untuk Kesejahteraan Karyawan</strong></p>
<p>Di bisnis waralaba, untuk urusan karyawan, biasanya terwaralaba tinggal merem. Semuanya sudah diatur, mulai dari pelatihan, kualitas, bahkan sampai ke gajinya. Cuma, kalau ingin sukses, Anda mesti menyiapkan dana ekstra untuk urusan SDM ini.</p>
<p>Itulah yang dilakukan Riza Rosalina. Maklum, dalam bisnis pendidikan, seperti SKB miliknya, kualitas SDM—khususnya tenaga pengajar—sangat menentukan. Nah, agar mereka tak tergiur pindah ke “ladang” lain, Riza mesti mengeluarkan dana ekstra untuk uang makan, kesehatan, dan bonus prestasi. Papar Riza, “Uang makan saya berikan jika mereka pulang lebih dari pukul 14.00.” Sementara urusan gaji (uang per sesi pengajaran), transportasi, dan tunjangan hari raya ditentukan oleh pewaralaba.</p>
<p>Cara yang sama dilakukan Wingky. Ia menambah jumlah insentif bagi para kepala cabangnya (pimpinan tertinggi di gerai waralaba Primagama). Sesuai aturan, insentif untuk kepala cabang yang berhasil menarik murid masuk Primagama adalah 1%. Nah, Wingky berinisiatif menambah menjadi 2%.</p>
<p><strong>#5 Jangan Abaikan Lingkungan dan Selera Lokal</strong></p>
<p>Peduli dengan selera lokal dilakukan Baron Respati di setiap gerai Kafe O La La-nya. Misalnya, ia sengaja membuat tema dan perlakuan berbeda untuk setiap gerai miliknya. Gerai di Kuningan sengaja ia buat trendi, modern, dan berbau Perancis. Lalu, gerai di Wisma Mulia yang dekat rumah sakit, seluruh tampilan dibuatnya bersih. Ia pun memakai dapur berkonsep open kitchen. Sementara gerai di Bank Permata tampil dengan konsep modern, yang di Gajah Mada Plaza kental nuansa Tionghoa.</p>
<p>Lain lagi cerita Jemmy. Ia memilih secara selektif varian roti di Bread Story dan menyesuaikannya dengan selera lokal. Alasannya, “Antara satu kota dan kota lain, kesukaan masyarakatnya berbeda-beda.”</p>
<p><strong>#6 Menjadi Pembeli Pertama Jauh Lebih Baik</strong></p>
<p>Banyak calon investor yang ragu menjadi pembeli pertama sebuah waralaba. Alasannya, sistemnya belum teruji dan banyak trial and error-nya. Namun, Baron Respati justru menentang arus.Ia malah bersemangat jadi pembeli pertama. “Sebab, belum ada pesaing,” celetuknya. Baron menjadi pembeli pertama waralaba Kafe O La La tahun 2000. Keuntungan lainnya, sebagai pembeli pertama, ia mendapat harga khusus. Saat ini, paket waralaba Kafe O La La ditawarkan dengan harga Rp50 juta oleh pemiliknya. Adapun total investasi yang diperlukan untuk satu gerai mencapai Rp300—500 juta, termasuk franchise fee.</p>
<p>Riza juga menjadi pembeli pertama waralaba SKB dari Grup Gramedia. Apa keuntungannya? Selain memperoleh potongan harga untuk franchise fee, ia pun mendapatkan pengajar terbaik hasil pelatihan dari pemilik waralaba. “Para pengajarnya mereka persiapkan betul,” ungkap Riza, yang masih tetap berpraktek sebagai dokter gigi di daerah Tanah Kusir, Jakarta. Selain itu, banyak hal yang bisa dinegosiasikan secara terbuka dengan pewaralaba. Ini karena mereka pun ingin terwaralabanya sukses.</p>
<p><strong>#7 Menyisihkan Waktu Itu Penting</strong></p>
<p>Membeli sebuah waralaba bukan berarti pembelinya tinggal ongkang-ongkang dan semuanya akan berjalan sendiri. Kalau mau sukses, terwaralaba harus mau menyisihkan waktu untuk memantau gerainya. Ini dilakoni terwaralaba Indomaret, Asep Gosiman. Bahkan, Asep mengaku merasa nikmat jika berada di gerainya dan tetap mengawasi pegawainya. Manfaatnya? “Kalau ada yang keliru bisa langsung dibenahi,” katanya, gamblang. Contohnya, melihat pegawainya mahal senyum saat melayani pembeli, Asep bisa langsung menegur.</p>
<p>Lain lagi cerita Wingky. Selama tiga bulan pertama, ia rajin menunggui gerai Primagama-nya. Kini, setelah yakin segalanya berjalan baik, Wingky cukup berkomunikasi dengan para kepala cabangnya.</p>
<p>Kalau Baron, ia memang menyiapkan waktu khusus untuk mengunjungi lima gerainya setiap hari. Ia memantau langsung perkembangan omzetnya, sehingga jika terjadi penurunan ia bisa langsung segera melakukan perbaikan. Selain itu, ungkap Baron, ia jadi lebih cepat tahu keluhan pelanggan.</p>
<p>Jadi, tak ada cara mudah untuk sukses.</p>
<p>Genuk Christiantuti, Evi Ratnasari,<br />
Iman Hendarto dan Ari Widyaningrum</p>
<p>Email dari : Eddy Aji Poerwanto,<br />
<a href="http://warungbarokah.com">http://warungbarokah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/bisnis-waralaba.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Reseller Produk Orang Lain</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/menjadi-reseller-produk-orang-lain.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/menjadi-reseller-produk-orang-lain.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Aug 2006 09:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Artikel serupa sudah pernah nih saya buat untuk produk kue, mudah-mudahan bisa diterapkan juga ke bisnis yang lain yaa…. Sebelum menjadi agen atau reseller atau marketing produk teman anda, ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan. Kita mulai dari hal yang paling dasar yaa &#8211; Pertama, Tanyakan pada yang punya produk, bolehkan anda menjadi resellernya? (kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel serupa sudah pernah nih saya buat untuk produk kue,<br />
mudah-mudahan bisa diterapkan juga ke bisnis yang lain yaa….</p>
<p>Sebelum menjadi agen atau reseller atau marketing produk teman anda, ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan.</p>
<p>Kita mulai dari hal yang paling dasar yaa <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8211; Pertama,<br />
Tanyakan pada yang punya produk, bolehkan anda menjadi resellernya?<br />
(kalau nggak boleh kan ngapain kita ikuti step step berikut hehe)</p>
<p>Bila ya, tawarkan satu diantara dua hal berikut ini:<br />
a) Bila anda tahu harga dasar produk (biasanya karena yang punya temen sendiri <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /><br />
Tanyakan apakah anda boleh ikut menentukan harga dasar<br />
Seperti ongkos kirim, ongkos produksi dan lain-lainnya?<br />
Sehingga, laba anda adalah laba bagi hasil penjualan.<br />
Kalau begini sebetulnya, kerjasamanya lebih berbentuk anda marketing, si teman tersebut bagian produksi.</p>
<p>b) Bila hal diatas tidak berlaku,<br />
Tanyakan apakah anda boleh menentukan persentase komisi sendiri?<br />
Bila ya, jangan lupa perhatikan harga pasaran yang berlaku<br />
Sehingga anda tidak kemahalan atau bahkan kemurahan.<br />
Ada juga yang sudah mentapkan harga jual sendiri dimana<br />
Didalamnya sudah mencakup persentase komisi reseller.</p>
<p>&#8211; Kedua,<br />
Bikin list plan marketing and promotion anda<br />
Misalnya:<br />
Siapa target market anda<br />
Bikin brosur<br />
Kartu nama (penting loh!)<br />
Website atau blog sederhana (contoh: <a href="http://www.DhiandraBizz.com">www.DhiandraBizz.com</a>)<br />
Tentukan “nama toko” untuk anda sendiri<br />
Kemana anda akan melakukan promosi offline:<br />
rencana penyebaran brosur, pasang spanduk, list kantor-kantor dan instansi.<br />
Kemana anda akan melakukan promosi online: milis, tukar banner?,<br />
signature tagline.</p>
<p>&#8211; Ketiga,<br />
Tanyakan apakah anda boleh menentukan nama sendiri?<br />
Soalnya ada yang boleh loh,<br />
Tapi mungkin, kebanyakan tidak boleh hehe ..<br />
Ini sebetulnya menjadi kelebihan apabila nama produk<br />
yang anda jual kembali tersebut sudah punya “pelanggan” sebelumnya sehingga ada semacam tesimoni klien yang bisa menjadi daya jual.</p>
<p>&#8211; Keempat,<br />
Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk tersebut.<br />
Apa kelebihannya?<br />
Misalnya, dari sisi bahan yang dipakai,<br />
Renda yang diwantek,<br />
Desain bordir yang tidak pasaran dan lain-lain.</p>
<p>Juga siapkan diri untuk kelemahan dari produk tersebut.<br />
Misalnya:<br />
Pencucian pertama pasti luntur deh <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /><br />
Tidak apa-apa kok, asal anda jujur memberitahukan hal ini pada konsumen<br />
Percaya deh, niat baik pasti hasilnya baik <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>&#8211; Kelima,<br />
You are what you sell <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /><br />
Kalau anda memang menjual produk baju,<br />
Sebaiknya sering-seringlah pakai baju tersebut.<br />
Kalau anda jualan handphone tertentu,<br />
Pakailah hp tersebut.<br />
Kalau anda jualan kue, hmm..<br />
Siap-sipa untuk gemuk karena sering banget mencicipi jualan sendiri <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Intinya, biarpun ngejual produk orang lain,<br />
jualannya pake hati yaa  <img src='http://www.bundainbiz.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Related artikel:<br />
Antara Waktu dan Mimpi<br />
<a href="http://www.bundainbiz.com/2005/06/antara-waktudan-mimpi.html">http://www.bundainbiz.com/2005/06/antara-waktudan-mimpi.html<br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/menjadi-reseller-produk-orang-lain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pameran Franchise di Surabaya</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/pameran-franchise-di-surabaya.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/pameran-franchise-di-surabaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 May 2006 16:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum / Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Seminar &#38; Pameran Franchise di Surabaya, 16-18 juni 2006 NEO Organizer bekerjasama dengan Asosiasi Franchise Indonesia dan Majalah Info Franchise Indonesia kembali akan mengadakan Pameran Waralaba, Bisnis &#38; Peluang Usaha yang merupakan seri ke -6 atau penutup dari acara roadshow pameran franchise yang diadakan di 6 kota di Indonesia. Nama Event : Roadhsow Indonesia Franchise [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seminar &amp; Pameran Franchise di Surabaya, 16-18 juni 2006</p>
<p>NEO Organizer bekerjasama dengan Asosiasi Franchise Indonesia<br />
dan Majalah Info Franchise Indonesia kembali akan mengadakan<br />
Pameran Waralaba, Bisnis &amp; Peluang Usaha yang merupakan<br />
seri ke -6 atau penutup dari acara roadshow pameran franchise yang<br />
diadakan di 6 kota di Indonesia.</p>
<p>Nama Event : Roadhsow Indonesia Franchise &amp; Business Concept Expo<br />
Lokasi : WTC Surabaya, Jl. Pemuda Surabaya<br />
Tanggal : 16-18 Juni 2006<br />
Waktu Pameran : 10.00 &#8211; 21.00 wib<br />
Tiket Pengunjung : Rp. 10.000,- / orang</p>
<p>Pameran ini akan menampilkan berbagai perusahaan franchise dari<br />
dalam maupun luar negri, juga akan hadir berbagai penawaran<br />
investasi di Mall maupun trade center di surabaya.</p>
<p>Dalam acara ini juga akan diadakan Seminar &#8220;How To Franchise Your<br />
Business&#8221;  yang akan diadakan pada tanggal 17-18 Juni 2006 pkl.<br />
10.00 &#8211; 15.00 wib di lokasi pameran. Tiket seminar dijual seharga Rp.<br />
500.000,- / orang. Seminar akan dibawakan oleh Asosiasi Franchise<br />
Indonesia dan Konsultan Franchise.</p>
<p>Bagi anda yang tertarik untuk mengikuti seminar / peserta pameran,<br />
bisa dapat langsung menghubungi kami</p>
<p>Salam Franchise<br />
Yohan<br />
General manager NEO Organizer<br />
www.neo-promosindo.com/organizer/franchise<br />
www.franchise-indonesia.com<br />
Phone : (022) 70103867</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/pameran-franchise-di-surabaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Kumon</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/usaha-kumon.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/usaha-kumon.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Mar 2006 11:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[Bila anda ingin membuka kursus matematika anak-anak seperti Kumon, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian: Harapannya adalah anda mampu menjalankan usaha tersebut dengan terlibat langsung mengajar secara aktif. Tujuannya untuk memperkecil biaya yang harus dikeluarkan mengingat dalam usaha kursus, komponen biaya terbesar adalah tenaga pengajar. Bila anda membayar guru untuk mengajar di tempat kursus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila anda ingin membuka kursus matematika anak-anak seperti Kumon, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian:</p>
<p>Harapannya adalah anda mampu menjalankan usaha tersebut dengan terlibat langsung mengajar secara aktif.<br />
Tujuannya untuk memperkecil biaya yang harus dikeluarkan mengingat dalam usaha kursus, komponen biaya terbesar adalah tenaga pengajar.</p>
<p>Bila anda membayar guru untuk mengajar di tempat kursus anda tentunya keuntungan yang akan diperoleh menjadi semakin kecil, sehingga masa kembali modal menjadi semakin panjang.</p>
<p>Apakah usaha ini menguntungkan?</p>
<p>Tergantung dari bagaimana kita mengelolanya.<br />
Sebagai gambaran, keuntungan yang akan anda peroleh sangat dipengaruhi oleh jumlah murid yang ada.<br />
Seandainya mengalami kerugian maka kerugian yang paling parah adalah sejumlah biaya yang telah anda keluarkan untuk merenovasi garasi rumah misalnya (sehingga dapat dijadikan tempat usaha).<br />
Ditambah biaya untuk memperoleh lisensi dalam menjalankan usaha dan perlengkapan kelas.</p>
<p>Bila anda membuka kursus dengan menggunakan hak paten tertentu, katakanlah Kumon, tentu pengelolaan hak paten di Indonesia telah memiliki standar yang berlaku umum tentang orang yang boleh menjalankan usaha tersebut.<br />
Anda hanya dapat menjalankan usaha setelah mendapatkan lisensi dari pengelola. </p>
<p>Selain lokasi, biasanya pengelola telah mengatur agar tidak terdapat tempat kursus dengan jarak yang berdekatan.<br />
Karena itu anda perlu menanyakan pada pengelola apakah rumah/lokasi yang akan anda pergunakan masih termasuk wilayah yang “kosong”.</p>
<p>Membuka kursus untuk anak-anak akan membuat sekitar perumahan anda menjadi ramai.<br />
Karena itu anda perlu minta ijin pada lingkungan.</p>
<p>Dikutip dari Tip Keuangan Keluarga<br />
Majalah Kartini No. 2160<br />
Oleh Hilda Fachriza</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/usaha-kumon.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istilah dalam Waralaba</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/istilah-dalam-waralaba.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/istilah-dalam-waralaba.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2006 14:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekerja Dari Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Advertising Fee (Biaya Periklanan) Advertising Fee (Biaya Periklanan) nerupakan biaya yang dibayarkan oleh penerima waralaba (franchisee) kepada pemberi waralaba (franchisor) untuk membiayai pos pengeluaran/belanja iklan dari franchisor yang disebarluaskan secara nasional/international. Besarnya advertising fee maksimum 3% dari penjualan. Tidak semua franchisor mengenakan advertising fee kepada franchiseenya. Alasan dari adanya advertising fee adalah kenyataan bahwa tujuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Advertising Fee (Biaya Periklanan)</strong></p>
<p>Advertising Fee (Biaya Periklanan) nerupakan biaya yang dibayarkan oleh penerima waralaba (franchisee) kepada pemberi waralaba (franchisor) untuk membiayai pos pengeluaran/belanja iklan dari franchisor yang disebarluaskan secara nasional/international. Besarnya advertising fee maksimum 3% dari penjualan. Tidak semua franchisor mengenakan advertising fee kepada franchiseenya. Alasan dari adanya advertising fee adalah kenyataan bahwa tujuan dari jaringan waralaba adalah membentuk satu skala ekonomi yang demikian besar sehingga biaya-biaya per outletnya menjadi sedemikian effisiennya untuk bersaing dengan usaha sejenis. Mengingat advertising fee merupakan pos pengeluaran yang dirasakan manfaatnya oleh semua jaringan, maka setiap anggota jaringan (franchisee) diminta untuk memberikan kontribusi dalam bentuk advertising fee.</p>
<p><strong>Area Franchise</strong><br />
Hak waralaba yang diberikan kepada individu atau perusahaan meliputi wilayah geografis yang telah ditentukan dalam perjanjian waralaba (Franchise Agreement). Pada prakteknya Area Franchisee dapat diberikan target dan dead line berkaitan dengan jumlah outlet yang harus dibuka dalam kurun waktu tertentu. Area Franchisee dapat menjual hak waralaba yang dimilikinya kepada Individual atau Multiple Franchisee.</p>
<p><strong>Business Format Franchising (Waralaba Format Bisnis)</strong><br />
Waralaba format bisnis merupakan jenis waralaba yang paling maju. Dalam waralaba format bisnis, Franchisor memberikan hak (lisensi) kepada franchisee untuk menjual produk/jasa menggunakan merek, identitas dari sistem yang dimiliki franchisor. Selain itu franchisor juga melatih franchisee dalam hal pemasaran, penjualan, pengelolaan stock, akunting, personalia, pemeliharaan, pengembangan bisnis dan semua aspek berkaitan dengan pengelolaan usaha bersangkutan. Selain itu dalam waralaba format bisnis franchisor juga memberikan dukungan yang berkesinambungan kepada para franchisee-nya dalam bentuk konsultansi usaha, internal audit, pemusatan pembelian untuk mendapatkan harga terbaik, pengembangan produk dan advertising.</p>
<p><strong>Conversion Franchise (Waralaba Konversi)</strong><br />
Waralaba konversi adalah jenis waralaba dimana franchisor memberikan lisesnsi kepada usaha sejenis milik franchise untuk bergabung di dalam rantai usaha yang dimiliki franchisor mempergunakan merek, logo dan sistem operasi franchisor. Format waralaba seperti ini diterapkan oleh rantai hotel misalnya choice hotel.</p>
<p><strong>Development Agreement</strong><br />
Development Agreement adalah perjanjian antara franchisor dengan Master Franchisee atau Area Franchisee berkaitan dengan komitment franchisee dalam hal target pengembangan jaringan waralaba di area geografis yang dimilikinya.</p>
<p><strong>Disclosure Document</strong><br />
Disclosure Document dikenal juga dengan sebutan FOC (Franchise Offering Circular). Di dalam FOC harus tercantum neraca, dan P&amp;L Statement dalam periode 3 tahun kebelakang yang sudah diaudit oleh akuntan publik. FOC diberikan paling tidak sepuluh hari sebelum calon franchisee memutuskan untuk membeli atau tidak hak waralaba yang ditawarkan oleh franchisor. Ketelitian dan disiplin calon farnchisee untuk meminta FOC kepada franchisor merupakan salah satu faktor yang dapat melindungi calon franchisee atas investasi yang akan ditanamkannya. Jangan membeli hak waralaba dari franchisor yang tidak mau memberikan FOC kepada calon franchiseenya.</p>
<p><strong>Distributorship (Dealer)</strong><br />
Distributorship merupakan hak yang diberikan oleh pabrikan atau wholesaleer kepada individu/perusahaan untuk menjual produk atau jasa kepada pihak lain. Distributorship adalah cikal bakal dari format waralaba Umumnya distributorship yang hanya menyangkut perpindahan kepemilikan produk bukan merupakan format waralaba. Namun demikian ditributorship yang mencantumkan adanya disclosure dalam persyaratan kerjasamanya dapat disebut sebagai salah satu format waralaba yang paling sederhana.</p>
<p><strong>Franchise Fee (Biaya Pembelian Hak Waralaba)</strong><br />
Franchise Fee adalah biaya pembelian hak waralaba yang dikeluarkan oleh pembeli waralaba (franchisee) setelah dinyatakan memenuhi persyaratan sebagai franchisee sesuai kriteria franchisor. Umumnya franchise fee dibayarkan hanya satu kali saja. Franchisee fee ini akan dikembalikan oleh franchisor kepada franchisee dalam bentuk fasilitas pelatihan awal, dan dukungan set up awal dari outlet pertama yang akan dibuka oleh franchisee.</p>
<p><strong>Franchise Offering Circular (FOC)</strong><br />
FOC merupakan disclosure document yang diberikan oleh franchisor kepada kandidat franchisee yang telah terkualifikasi, sebelum ia memutuskan penandatanganan perjanjian waralaba. FOC berisi fakta-fakta fiansial maupun non finansial berkaitan dengan franchisor dan para franchisee yang ada saaat ini dan yang telah berhenti. Di Amerika Serikat, untuk melindungi investor (calon franchisee), FOC harus dipelajari oleh calon franchisee paling tidak selama 10 hari. Dalam waktu ini franchisor tidak didijinkan untuk mempengaruhi dan calon franchisee belum diijinkan untuk menandatangani perjanjian waralabanya. Untuk kondisi Indonesia, FOC baru merupakan satu kewajiban yang harus diberikan oleh franchisor, tanpa ada batas waktu yang jelas seperti halnya di Amerika Serikat.</p>
<p><strong>Housemark</strong><br />
Housemark adalah merek dagang yang digunakan sebagai identitas untuk membedakan perusahaan dengan perusahaan lainnya. Housemark dapat berupa nama perusahaan, nama produk atau kumpulan produk atau bahkan nama gabungan dengan merek dagang (trademark/servicemark) lainnya.</p>
<p><strong>Identify Items</strong><br />
Identify items adalah item-item seperti kemasan, seragam, POS materials, signage, bahan baku dan sebagainya yang harus digunakan oleh franchisee. Item-item ini terdaftar sebagai merek dagang yang dimiliki oleh franchisor.</p>
<p><strong>Individual Franchisee</strong><br />
Individual Franchisee adalah franchisee yang bertindak atas nama sendiri yang memegang hak waralaba untuk satu outlet saja, dan tidak dapat menjual hak waralaba yang dimilikinya.</p>
<p><strong>Initial Investment</strong><br />
Initial investment adalah modal awal yang harus disetorkan dan dimiliki oleh franchisee pada saat memulai usaha waralabanya. Initial investment terdiri atas franchise fee, investasi untuk fixed asset dan modal kerja untuk menutup operasi selama bulan-bulan awal usaha waralabanya.</p>
<p><strong>Master Franchisee</strong><br />
Master Franchisee adalah franchisee yang mendapatkan hak waralaba langsung dari Franchisor meliputi area geografis tertentu yang umumnya meliputi satu wilayah hukum (negara). Master Franchisee dapat menjual hak waralabanya kepada Area, Multiple maupun Individual Franchisee.</p>
<p><strong>Mystery Shoppers</strong><br />
Mystery Shopper adalah satu alat yang digunakan oleh franchisor atau franchisee untuk menilai seberapa baik penerapan standar operasional di satu outlet dilihat dari sisi pelanggan.</p>
<p><strong>Multiple Franchisee</strong><br />
Multiple Franchisee adalah franchisee yang memegang hak waralaba untuk lebih dari satu outlet di area geografis tertentu, namun tidak dapat menjual hak waralaba yang dimilikinya.</p>
<p><strong>Outlet Milik Franchisor (Company Owned Outlet, Pilot Store)</strong><br />
Franchisor yang terpercaya adalah franchisor yang telah terbukti sukses dan mengoperasikan outlet milik mereka sendiri yang dinamakan Company Owned Outlet atau Pilot Store. Jangan pernah membeli hak waralaba dari franchisor yang tidak memiliki outlet yang sejenis dengan outlet yang dipasarkan hak waralabnya.</p>
<p><strong>Sumber (dan masih banyak list istilah Waralaba lainnya):</strong></p>
<p>http://www.smfranchise.com/franchise/istilahwaralaba.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/istilah-dalam-waralaba.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Bisnis: Membeli Hak Waralaba</title>
		<link>http://www.bundainbiz.com/tips-bisnis-membeli-hak-waralaba.html</link>
		<comments>http://www.bundainbiz.com/tips-bisnis-membeli-hak-waralaba.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2006 16:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bekerja Dari Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[Waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bundainbiz.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Membeli hak waralaba merupakan salah satu alternatif investasi yang makin menarik pemilik modal di Indonesia. Namun ada beberapa fakta penting yang perlu dipertimbangkan oleh calon pembeli waralaba (franchisee). IFA (International Franchisee Association) menyarikan fakta penting tersebut di bawah ini: 1. Nilai franchise fee umumnya bersifat non-refundable; artinya setelah disetorkan tidak dapat diminta kembali. Sehingga calon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membeli hak waralaba merupakan salah satu alternatif investasi yang makin menarik pemilik modal di Indonesia. Namun ada beberapa fakta penting yang perlu dipertimbangkan oleh calon pembeli waralaba (franchisee).</p>
<p>IFA (International Franchisee Association) menyarikan fakta penting tersebut di bawah ini:</p>
<p>1. Nilai franchise fee umumnya bersifat non-refundable; artinya setelah disetorkan tidak dapat diminta kembali. Sehingga calon franchisee mesti bersiap-siap atas resiko kehilangan nilai uang tersebut jika ternyata hak waralaba yang dibelinya gagal ditengah jalan, bahkan sebelum sempat beroperasi.</p>
<p>2. Pertanyaan paling penting bukanlah berapa besar anda memiliki uang untuk diinvestasikan; Namun berapa besar kerugiaan yang mampu anda tanggung jika ternyata bisnis waralaba anda mengalami kerugian. Tersediakah pinjaman yang sifatnya stand by jika membutuhkan tambahan dana? Apakah anda memiliki sumber penghasilan lain sementara usaha waralaba anda menyedot dana dan perhatian anda untuk menghasilkan cash flow positif?</p>
<p>3. Banyak franchisor akan menentukan secara sepihak dimana lokasi usaha anda, sejauh mana teritori yang diperbolehkan, menetapkan desain, menetapkan produk dan jasa yang boleh dijual, menetapkan resep dan bahan baku, bahkan menentukan cara anda mengelola usaha. Sanggupkah anda diatur secara ketat oleh franchisor anda?</p>
<p>4. Franchise aggreement (persetujuan waralaba) umumnya akan berakhir dalam 5, 10, 15 atau 20 tahun. Cek apakah anda memiliki opsi untuk memperpanjangnya. Beberapa franchisor menentukan setelah periode tertentu franchisee tidak diperkenankan untuk memperpanjang perjanjian waralabanya. Hitunglah resikonya, apakah ketentuan ini masih menguntungkan anda atau tidak.</p>
<p>5. Lakukan survey pasar di lokasi anda. Apakah produk yang ditawarkan sudah banyak dijumpai di pasar? Apakah pasar telah jenuh oleh kompetisi? Apakah produk bersangkutan sudah ketinggalan jaman atau akan menurun konsumsinya di masa depan?</p>
<p>6. Berhati-hatilah terhadap praktek “hard sell”. Cek kemampuan dan nama baik franchisor dalam memberikan dukungan jangka panjang  yang kontinue kepada para franchiseenya. Luangkan waktu untuk cek referensi kepada para franchisee yang ada saat ini.<br />
Franchisor yang baik akan membantu dan memberikan dukungan bagi anda<br />
untuk memperoleh waktu, informasi dan data yang dibutuhkan.</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
S. Muharram<br />
SMfr@nchise: Store, Merchandise and Franchise</p>
<p>http://www.smfranchise.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bundainbiz.com/tips-bisnis-membeli-hak-waralaba.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

