Siap Melompat

Seorang teman, mengirimkan artikel ini pada saya.
Dan saya haru biru membacanya ;-)
Soalnya kayaknya sharingnya jujur banget gitu loh hehe
Selain itu, ada hikmah yang sangat bisa ditarik
Apalagi bagi teman-teman yang saat ini belum berani “melompat” …

Mudah-mudahan temen-temen nantinya juga bisa merasakan semangat Bunda Tata berikut ini yaa..
yang sedang melakukan lompatan besar untuk bisa menjadi seorang momtepreneur ;-)

Lompatan Besar
By
Hanindita Setiadji

Saya adalah pekerja kantoran yang punya jam kerja formal dari pk. 8.30– 17.30.
Tapi, bekerja di bisnis periklanan membuat kita sering ‘terjebak’ di kantor hingga malam menjelang.
Bahkan bagi teman-teman di departemen kreatif, tak jarang mereka pulang saat matahari pagi mulai mengintip lagi.
Jadi,dalam 5 hari kerja, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya tiba di rumah sebelum jam 7 malam.

Adalah sebuah kemewahan tak terhingga bila saya bisa pulang dari kantor minimal jam 6.00.
Intinya, 8 jam kerja itu ‘mahal’ sekali harganya, karena umumnya kami bekerja lebih dari 8 jam dan tentu saja tanpa uang lembur (hanya uang makan saja yang diprovide bila tak ingin dibilang tidak dibayar sama sekali..:-)

Awalnya tak terlalu menjadi masalah karena saya menyenangi pekerjaan saya plus ketika itu saya masih berstatus lajang.
Bahkan ketika sudah menikah pun, ‘ndilalah’ saya dapat suami yang sangat pengertian dengan pekerjaan istrinya.
Namun, ketika bidadari kecil saya lahir (setelah menunggu 4 tahun), saya menjadi sulit berkompromi dengan jam kerja ini.
Apalagi kalau si kecil sakit, babysitter cuti atau hanya sekedar mengantar imunisasi.
Rasanya konsentrasi saya sulit terbagi antara pekerjaan dan anak.

Tidak seperti keluarga muda pada umumnya yang masih bisa ‘minta pertolongan’ ibu atau mertua maupun bude / tante / kakak /adik, pada saat kita berhalangan.
Dalam kasus ini, saya tidaklah seberuntung itu.
Saya sudah menjadi yatim piatu, sementara bapak ibu mertua masih aktif dengan kegiatannya.
Kakak saya satu-satunya (perempuan) pun seorang pekerja yang waktunya lebih banyak di luar rumah.
Demikian pula kakak dan adik dari pihak suami.
Jadi, urusan titip mentitip anak nampaknya harus di delete dari kamus kehidupan rumah tangga kami.
Kami tidak bisa tergantung dengan keluarga besar dan harus berhadapan dengan situasi mandiri, semandiri mandirinya.

Mau tidak mau, saya dan suami sedikit banyak ‘terpaksa’ mengadaptasi gaya hidup orang Barat sana.
Mengingat kami berdua harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan, kami pun sepakat melatih kemandirian putri kami sejak dini dan mempekerjakan seorang babysitter.
Pada saat kami bekerja di luar rumah, praktis anak saya lebih sering bersama baby sitter dan pembantu di rumah.
Tega nggak tega deh.
Tapi begitulah kenyataan yang harus kami hadapi.

Bulan demi bulan berjalan.
Saya semakin tidak nyaman meninggalkan si kecil meskipun sang pengasuh bekerja dengan sangat baik.
Apalagi ketika ia makin besar dan makin mengerti.
Memang, kemandiriannya terlihat jelas.
Tapi terus terang, rasa bersalah sering mendera dan saya mulai merasa kehilangan quality time bersamanya (ssttt….ini rahasia karena saya malu mengakuinya..ya saya agak cemburu melihat kedekatan anak saya dengan pengasuhnya).
Seperti yang terjadi pada ibu-ibu pekerja lainnya, dilema pun mulai menghampiri.

Mulailah saya berpikir-pikir.
Melanjutkan karir atau melakukan lompatan baru demi mendapatkan jam kerja yang lebih fleksibel.

Pada dasarnya, saya tidak ingin berhenti bekerja dan full menjadi Ibu Rumah Tangga.
Bukan saya ‘ngenyek’ profesi IRT lho.
Saya justru salut dengan mereka yang memilih menjadi IRT 100% dan total mengurus anak.
Tapi justru karena saya mengenal diri saya sendiri.
Selain memang pemasukan dari dua sumber ternyata membuat kami bisa menabung, saya adalah tipe wanita yang tidak betah diam, haus akan ilmu, dan gengsi menadahkan tangan untuk ‘segenggam berlian’ (baca :uang) bahkan kepada suami sendiri ( mungkin ini dampak 10 tahun lebih berpenghasilan sendiri dan hobi menyenangkan diri sendiri dengan hasil keringat).
Plus, jelek-jelek gini, lingkungan pergaulan saya (baik keluarga maupun temen-temen gaul saya ) kebetulan para pekerja dan professional, jujur saja, saya memiliki sedikit ketakutan, bila saya tidak bekerja, kelak pembicaraan saya jadi gak nyambung saat bersosialisasi dengan mereka.

Nah, bila itu semua tidak terakomodir, yakin 100% bahwa saya bisa frustrasi dan akan menjadi pribadi yang sangat tidak menyenangkan.
Suami saya pun kurang setuju (bila tidak terpaksa sekali) jika saya total berhenti bekerja.
Alasannya so simple tapi ‘ekstrim’ (he..he..) katanya begini, “Kalau tidak bekerja, nanti kamu di rumah bakal kebanyakan nonton sinetron dan infotainment, jadi paranoid, aku ditelponin terus tiap jam dan kamu jadi orang yang gak asik lagi buat diajak bertukar pikiran.”
Nah lho! Tumbu ketemu tutup kan?

Sejatinya, dia memang tipe suami ‘hari gini’ yang sangat terbuka pikirannya, dan ternyata, kemandirian saya lho yang membuatnya dulu kepincut dan jatuh cinta.
Ciihuiiiii…(lho kok jadi curhat).

Anyway, saya pun semakin keras berpikir untuk menyusun masa depan saya.
Suami tidak keberatan bila saya bekerja dari rumah atau bekerja dengan waktu yang lebih fleksibel.
“Yang penting, jangan sampai tidak mengerjakan pekerjaan lain selain ngurus rumah dan anak,”demikian pesannya ketika saya menyampaikan niat saya.
Rasanya agak terlambat menyusun rencana di usia sekarang, tapi lebih baik terlambat daripada tidak terpikir sama sekali kan?
Saya pun tidak percaya bahwa seyogyanya hidup dibiarkan mengalir begitu saja.
Bagaimanapun juga, kita membutuhkan rencana untuk menyongsong masa depan kalau tidak mau nelangsa di usia senja.
Buntutnya, memang masalah financial menjadi issue utama.
Kalo bahasanya ABG,”Hari gini gitu loch!”

Untuk memulai usaha sendiri saya merasa bahwa saya tidak memiliki jiwa dagang ataupun ketrampilan khusus.
Dari sononya, saya memang tidak tega’an.
Jangankan jualan, adu otot leher dengan pedagang di pasar pun jarang sekali saya lakukan, apalagi bila melihat wajah pedagangnya memelas.
Langsung nggak jadi nawar atau kalau kemahalan lebih baik saya tidak jadi beli saja ketimbang nawar.
Atau sebaliknya kalau harganya kemurahan,saya langsung bayar dan ngeloyor pergi sambil menenteng belanjaan tanpa menunggu kembalian.
Jadi, sering saya berpikir, mau usaha sendiri, tapi gak bisa jualan, bisa rugi terus nih.
Gimana donk? Tapi, ketika membaca tips di bundainbiz yang ditulis Nadia, pikiran saya pun terbuka.

Ya, yang pertama kali harus dirubah adalah paradigma tentang diri sendiri.
Saya pun sudah puluhan kali membaca buku-buku ‘pembangkit semangat’ kehidupan.
Semua intinya sama, yaitu bahwa kita harus selalu berpikir positif.
Pikiranmu adalah Doamu, Doamu adalah Pikiranmu.
Bila kita berpikir BISA, pasti BISA.
Sebaliknya bila kita berpikir negative, maka yang terjadi adalah hal yang tidak kita inginkan.
Semua itu sudah saya buktikan dan terapkan dalam menjalani kehidupan saya yang penuh liku-liku (cieee….sok tua deh)
Puji Tuhan, dengan berpikir positif dan selalu memohon berkatNya, kehidupan saya baik-baik saja dan setiap persoalan selalu bisa diatasi.

Namun terus terang, saya tidak pernah berpikir untuk menerapkannya di urusan wiraswasta he..he..he (karena selama ini saya berkesimpulan bahwa saya ini bermental pegawai, bukan mental pengusaha, jadi tak pernah terpikir untuk wiraswasta).

Mungkin sekaranglah saatnya merubah pandangan itu.
Saya percaya bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Perkenalan saya dengan Nadia melalui sebuah milis mungkin sudah diatur untuk menggiring langkah saya menuju masa depan yang saya inginkan.

Saat ini, seperti yang saya sampaikan di awal, saya sedang dalam tahap menyusun rencana, membuat perhitungan-perhitungan untuk meminimalkan ‘kerugian’ lahir batin demi sebuah lompatan besar yang saya harapkan bisa menggiring saya pada kesuksesan baru.

Saya mencoba mengumpulkan hal-hal yang terserak dalam kehidupan saya.
Ternyata banyak sekali.
Semakin saya merenung, semakin banyak yang saya temukan, yang mungkin saja berpotensi untuk menjadi mata pencaharian.
Inspirasi-inspirasi baru pun bertaburan di benak saya.
Dari hari ke hari, fokus semakin jelas.
Dan, percaya gak percaya, banyak sekali ide yang saya temukan dari ‘pinggir jalan.
Diantaranya cerita saya berikut ini yang mampu mendongkrak niat saya.

Di dekat kantor saya di bilangan Pancoran, ada seorang tukang siomay yang dagangannya selalu laris manis.
Memang aduhai deh rasanya.
Siomaynya ‘seksi-seksi’, bumbu kacangnya ‘mantab’, dan harganya pun cocok dengan isi dompet.
Pukul 6 sore jangan berharap masih bisa menyantap siomay Jakarta yang aduhai banget rasanya itu karena sudah pasti kehabisan.
Biasanya, saya dan teman-teman kantor sering makan sore di sana sambil melepas kepenatan setelah seharian bekerja.
Suatu hari, saya pun berbincang-bincang dengan si Hendra (sebut saja demikian) si juragan siomay berambut gondrong yang selalu menguncir rambutnya dan berperilaku sopan terhadap pelanggan.

Setiap hari, dengan motor andalannya Hendra membawa sepanci besar dagangannya (berupa siomay, kentang, tahu, kol, telur dan pare) yang disusunnya bertumpuk ‘dipagari’ plastik hingga melebihi tinggi pancinya.
Lengkap dengan saus kacang, saus tomat, jeruk nipis dan kecap, plus sebuah payung terbuka tuk melindungi dagangannya dari panas dan hujan.
Dari jam 3 siang, dia sudah mangkal di ‘plegungan’nya, somewhere di belakang gedung Bidakara.

Cerita tentang sejarah usahanya ini pun mengalir dengan serunya.
Dia bercerita.
Setelah bertahun-tahun bergelut di dunia per-angkotan dengan hasil tak memadai (menurut ukurannya), akhirnya Hendra memutuskan belajar membuat siomay dari ayahnya.
Diawali dengan berjualan siomay keliling, akhirnya dia berhasil mangkal di tempatnya sekarang.
Itupun tidak langsung sukses. “Butuh 2 tahun untuk establish di sini lho mbak, (buset..ngerti establish lho) sampai akhirnya siomay saya dicari-cari orang”.

Setiap hari, ia memproduksi kurang lebih 10.000 siomay.
Sekarang dia sudah mendistribusi siomaynya ke beberapa area di Jakarta, termasuk daerah elit seperti Kemang, Sunter Permai dan Menteng.
Tak tanggung-tanggung, seorang artis mengajaknya berkonsinyasi menjual siomay buatannya untuk dijual di kafenya di daerah Kemang.
Siomay yang dibawanya ke tempat mangkal, kira-kira 3000 buah, dan dari jam 3.00 hingga 18.30 selalu ludes.
Saya langsung berhitung, jika dari 10.000 siomay itu dia mengambil untung Rp. 200 saja per siomay, berarti sehari dia mendapat untung sebesar Rp. 2.000.000,-, katakanlah dipotong 50% untuk honor pekerja, uang bensin dan tetek bengek lainnya, berarti masih tersisa Rp. 1.000.000,- /sebulan?…BAYANGKAN!!!!

“Membuat siomay itu pekerjaan berat.
Menurut saya sih ini pekerjaan laki-laki karena benar-benar mengandalkan fisik.
Istri saya saja tidak kuat lho mbak.
Bayangin aja, dari jam 3 subuh sampai jam segini, saya belum tidur lho,” ujarnya enteng tanpa menunjukkan tanda-tanda keletihan.
Saya menyukai semangatnya dalam menjalani pekerjaannya.
Keramahannya pun membaur di antara para pembeli yang silih berganti menghampiri motornya.
Tak jarang dia ikut ‘ngerumpi’ bersama-sama kami, menyediakan bangku untuk duduk bahkan bekerja sama dengan penjaga sebuah rumah tak berpenghuni di area situ untuk membuka terasnya bagi para pelanggan, serta mengkoordinir pemesanan minuman botol dengan ‘kolega’nya yang berjualan berdampingan.
Bukan main.
Ini baru namanya service.

Kalau sudah begitu, saya rasa semua pun setuju, kerja keras akan membuahkan hasil yang sepadan.

Belajar dari semangatnya, kembali saya merenung.
Benarkah saya tidak bisa ?
Seorang tukang siomay saja harus berkelana dulu menjadi supir angkot hingga akhirnya dia menyadari kemampuannya membuat siomay diturunkan dari orang tuanya.
Dan dengan usaha keras, kegigihan, disertai ketekunan,kesabaran yang konsisten dan mungkin sedikit keberuntungan, pintu kesuksesan pun terbuka lebar.

Masa saya gak bisa? Biasanya sih orang kalau ‘kepepet’ baru berhasil.
Tapi mumpung masih bisa memilih, saya menolak berada dalam posisi kepepet untuk menuai kesuksesan.
Karena saya yakin saya dikaruniai Tuhan berbagai talenta.
Sebagian talenta emas yang sudah saya temukan itu ‘tergeletak’, di bagian diri saya yang seringkali lupa saya tengok.
Nyaris kusam karena terabaikan, menunggu dipoles menjadi talenta emas yang siap menyinari hidup saya.

Obrolan ringan dan singkat dengan juragan siomay itu membuat adrenalin saya terpompa deras.
Dengan penuh semangat saya mengumpulkan semua ‘bagian-bagian’ diri saya yang nyaris kusam.

Antara lain, saya pernah bekerja sebagai wartawan (kembali ke 10 tahun yang lalu ketika masih fresh graduate), artinya, saya bisa menulis, membuat artikel atau membuat laporan pandangan mata (mungkin juga menulis fiksi? yang satu ini belum pernah dicoba).
Saat ini saya bekerja sebagai account service di perusahaan advertising.
Artinya sebenarnya saya punya ilmu advertising dan marketing yang lumayanlah ( at least tau dasar2nya kan?) setelah 6 tahun bergelut di sini.
Hmm, harusnya bisa jadi modal berpromosi.

Dan, o iya, saya pernah juga jadi public relations di sebuah hotel berbintang.
Artinya, paling tidak sedikit-sedikit saya memiliki jiwa ‘hospitality’ yang tentunya diperlukan dalam berjualan.
Apalagi ya?..Hmmm…nyaris terlewat, saya ini anggota sebuah MLM yang cukup besar.
Menjadi anggota karena saya suka dengan produk-produknya, tapi terus terang saya tidak pernah berniat mengembangkan downline saya.
Jadi, kalaupun sulit memperluas downline,at least saya bisa jualan produknya kan?
Atau, jualan siomaynya bang Hendra? Kenapa tidak?…

See?.. ternyata banyak juga yang sudah saya kumpulkan dan saya biarkan terserak.
Semuanya nyaris kusam karena saya nyaris tak melihatnya lagi sebagai talenta emas, sebaliknya hampir
meletakkannya sebagai ‘sejarah’ hidup saya dan menganggapnya
sebagai rutinitas yang membosankan.
Waktunya memoles kembali
emas di dalam diri saya, tak ada kata terlambat.
Tuhan telah begitu murahnya memberi begitu banyak karunia kepada saya.
Sudah waktunya saya mengukir onggokan emas dalam diri saya menjadi karya yang indah dan mengkilat.
Doakan saya ya, semoga emas di dalam diri saya segera bersinar kembali.
Rasanya tak sabar menunggu lompatan itu terjadi..
Segala sesuatu ada waktunya.
Dan Tuhan membuatnya indah pada masanya.
Tunggu saja.
Pada saatnya, pasti akan saya bagi ceritanya di sini.

Hanindita Setiadji

Kalau kata nadia:
Tata adalah a bundainbiz, in the making
Sukses ya Taa..dengan lompatan besarnya …. ;-)

Speak Your Mind

*